Contoh Naibul Fail dalam Bahasa Arab

0
20385
Contoh Naibul Fail dalam Bahasa Arab
Sumber foto: Mtsnkalabahintt.wordpress.com

Al-Wanun.com – Objek kajian ilmu nahwu sebagai cabang kajian ilmu bahasa arab tentang tata bahasa atau gramatika ialah baris akhir suatu kata dalam kalimat bahasa arab dan perubahan-perubahan yang terjadi karena perubahan kedudukannya dalam kalimat, dengan menggunakan tanda-tanda (alamat) tertentu dengan adanya perubahan-perubahan ini.

Dalam ilmu nahwu dikenal berbagai istilah, seperti marfu’ (yang dibaca dengan bacaan yang sama dengan vocal /u/), manshub ( yang dibaca dengan bacaan yang sama dengan bunyi vocal /a/), majrur (yang dibaca dengan bacaan yang sama dengan bunyi vocal /i/) dan majzum (yang dibaca dengan bacaan-bacaan yang sama dengan bunyi vocal /a/i/u/). Adapun tanda-tandanya antara lain dhammah (bunyi /u/), fathah (bunyi /a/), kasrah (bunyi /i/) dan sukun (tanda baca mati). [1]1

Dari beberapa istilah tersebut di atas dikenal pula dengan istilah “tawaabi” (yang mengikut). Sebahagian kata di I’rab (mengalami perubahan baris akhir) karena kedudukan asalnya dalam kalimat seperti mubtada dan fail (subjek) dalam posisi marfu, mafaa’il (objek) dalam posisi manshub, mudhaf ilaih dalam posisi majrur dan sebahagian kata yang lain dii’rab karena mengikut pada perubahan kata sebelumnya. Oleh karena perubahannya bukan secara asli maka ulama nahwu menamakannya “tawabi” (kata-kata yang ketentuan I’rabnya tergantung I’rab kata yang diikutinya).[2]

Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting sebagai media komunikasi dalam bidang sosial, politik, dan religiuvitas khususnya agama Islam . Bahasa Arab dan Islam adalah dua dari asumsi ini, sisi yang mustahil terpisahkan.

Bahasa Arab sudah dikenal oleh masyarakat luas diseluruh belahan dunia, karena sudah digunakan sejak dahulu kala, hingga hari ini, bahasa Arab masih tetap eksis dan dipelajari baik sebagai bahasa komunikasi maupun budaya, lebih khusus sebagai bahasa kitab suci al-Qur’an.[3]

Karena begitu pentingnya bahasa Arab sebagai bahasa Al-qur’an dan hadits, maka hal inilah yang membuat kami memaparkan salah satu pembahasan dalam Ilmu Nahwu, yaitu tentang: نَائِبُ الْفَـاعِلُ

Pengertian Naibul Fa’il

*. نَائِبُ الْفَاعِلِ إِسْمٌ مَرْفُوْعٌ يَقَعَ بَعْدَ فِعْلِ مَبْنِى لِلْمَجْحُوْلِ وَيَحِلُّ مَحَلِّ الْفَاعِلِ بَعْدَ حَذْفِهِ

Naibul Fa’il adalah isim marfu’ yang terletak setelah Fi’il.[4] Naibul Fa’il Atau di sebut juga Naib Fa’il atau Mabni majhul adalah isim marfu’(di baca rafa’) yang tidak disebutkan Fa’il –nya. Apabila ia fi’il madhi, maka di baca dhammah pada huruf awalnya serta kasrah pada huruf sebelum akhir madhi.

Contoh:

ضَرَبَ الْوَلَدُ الْكَلْبَ

(Anak itu telah memukul anjing “Fi’il Madhi Ma’lum (Aktif)”

ضُرِبَ الْكَلْبُ

(Anjing itu telah dipukul) “Fi’il Madhi Majhul ( Pasif )”

نَائِبُ الْفَاعِلِ هُوَ لإِسْمُ الْمَرْفُوْعُ الَّذِي يَنُوْبُ عَنِ الْفَاعِلِ بَعْدَ حَذْفِهِ

Naibul Fa’il adalah isim marfu’ yang,[5] di baca rafa’ yang berada setelah kata kerja majhul (kata kerja pasif) yang menempati posisi fa’il (pelaku) setelah pelaku di buang.

Contoh:

يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَ

(Siswa itu sedang menulis pelajaran) “Fi’il Mudhori’ Ma’lum (Aktif)”

يُكْتَبُ الدَّرْسُ

(Pelajaran itu telah ditulis) “ Fi’il Modhori’ Majhul ( Pasif )”

Cara pembentukan Naibul fa’il

Adapun cara membentuk Naibul Fa’il [6] asalah dengan cara merubah kalimat Aktif menjadi kalimah pasif. Contoh:

شَرَبَ مُحَمَّدٌ الْقَهْوَةَ

(Muhammad telah minum kopi). “ Fi’il Madhi Ma’lum (Aktif)”

شُرِبَ الْقَهْوَةُ

(Kopi itu telah diminum) “ Fi’il Madhi Majhul (Pasif)”

يَشْرَبُ مُحَمَّدٌ الْقَهْوَةَ

(Muhammad sedang minum kopi) “ Fi’il Mudhori’ Ma’lum (Aktif)”

يُشْرَبُ الْقَهْوَةُ

(Kopi itu sedang diminum) “ Fi’il Modhori’ Majhul ( Pasif )”

Langkah-langkah pembentukan Naibul Fa’il:

Pertama; Dibuang Fa’ilnya yaitu lafazh مُحَمَّدٌ

Kedua; Lafazh الْقَهْوَةَ ditempatkan pada tempat fa’il dan dijadikan marfu’   الْقَهْوَةُ

Ketiga ; Fi’il Madhi dan Mudhori’ yang tadinya Ma’lum dirubah menjadi majhul, berarti dari kata شَرَبَ menjadi شُرِبَ dan kata يَشْرَبُ menjadi يُشْرَبُ.

Penjelasan:

Untuk Fi’il Madhi Ma’lum apabila dirubah kedalam Fi’il Madhi Majhul maka rumusnya huruf pertama diberi baris dhommah dan baris kasrah pada huruf sebelum huruf terakhir.
شَرَبَ menjadi شُرِبَ

Untuk Fi’il Mudhori’ Ma’lum apabila dirubah kedalam Fi’il Mudhori’ Majhul maka rumusnya huruf pertama diberi baris dhommah dan baris fathah pada huruf sebelum huruf terakhir.
يَشْرَبُ menjadi يُشْرَبُ.

Kesimpulan: Fi’il Madhi Majhul dan Mudhori’ Majhul.[7] Fi’il Madhi Majhul : Dhommah awal huruf dan kasrah sebelum huruf terakhir. Fi’il Mudhori’ Majhul : Dhommah awal huruf dan fathah sebelum huruf terakhir.

Keempat; Perhatikan mudzakkar dan muannatsnya. Jika Naib Fa’ilnya muannats berilah tanda muannats (Ta’ Ta’nits) pada fi’ilnya sebagaimana aturan fi’il-fa’il.

ضَرَبَتْ فَاطِمَةُ الْكَلْبَ

(Fathimah telah memukul anjing) “ Fi’il Madhi Ma’lum (Aktif)”

ضُرِبَتْ الْكَلْبُ

(Anjing itu telah dipukul) “ Fi’il Madhi Majhul ( Pasif )”

Catatan: Jika Fa’il tidak ada maka terdapat dua kemungkinan;

  1. Tidak diketahui siapa pelakunya. Seperti, ada barang yang dicuri dan tidak diketahui siapa pencurinya, maka diungkapkan; سُرِقَ الثَّوْبُ (Baju itu telah dicuri) “Fi’il Madhi Majhul (Pasif)”
  2. Sudah sama-sama tahu dan tidak perlu disebutkan fa’ilnya (pelakunya) supaya ringkas dan singkat, contoh; كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ (Telah diwajibkan kepadamu berpuasa). Kita sudah mengetahui bahwa yang mewajibkan puasa itu adalah Allah, jadi tidak perlu lagi disebut fa’ilnya ( Allah).

Pembagian Naibul Fa’il

Adapun pembagian Naibul Fa’il terbagi atas 2 bagian ;[8]

  1. Pertama ظَاهِرٌ ; yaitu Naib Fa’il yang terdiri dari isim zahir, seperti; فُتِحَ الْبَابُ (Pintu itu telah dibuka) dan سُئِلَ الأُسْتَاذُ (Ustadz itu telah ditanya)
  2. Kedua ضَميْرٌ; Na’ib Fa’il yang terdiri dari isim dhamir, seperti; أُمِرْتُ (Aku telah diperintah) dan أُسْأَلُ (Saya akan ditanya)

Ketentuan-Ketentuan Naibul Fa’il

Adapun ketentuan-ketentuan Naibul Fa’il sebagai berikut;[9]

  1. Naibul Fa’il harus senantiasa Marfu’. Seperti: سُرِقَ الثَّوْبُ, فُتِحَ الْبَابُ , سُئِلَ الأُسْتَاذُ
  2. Naibul Fa’il harus selamanya didahului oleh fi’il majhul. Seperti سُرِقَ الثَّوْبُ, فُتِحَ الْبَابُ , سُئِلَ الأُسْتَاذُ
  3. Naibul Fa’il itu harus berasal dari Maf’ul bih, tetapi karena fa’ilnya tidak ada maka ia menggantikan tempat fa’il. Seperti dari يَشْرَبُ مُحَمَّدٌ الْقَهْوَةَ menjadi يُشْرَبُ الْقَهْوَةُ
  4. Jika Naibul Failnya mutsanna atau jama’ , maka fi’ilnya tetap dalam keadaan. Seperti يَكْتُبُ الطَّالِبُ الدَّرْسَيْنِ (Siswa itu menulis dua pelajaran) menjadi يُكْتَبُ الدَّرْسَانِ (Kedua pelajaran itu ditulis)
  5. Jika Naibul Fa’ilnya muannats, maka fi’ilnya harus diberi tanda ضَرَبَتْ فَاطِمَةُ الْكَلْبَ  dari kata ضُرِبَتْ الْكَلْبُ
  6. Setiap ada Naibul Fa’il maka fi’il mesti tidak ada. Sementara dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, fa’ilnya masih bisa disebut seperti contoh: (Saya dipukul oleh ali = Iam hit by Ali), akan tetapi dalam bahasa Arab tidak bisa diungkapkan dengan Fi’ilnya : ضُرِبْتُ بِعَلِيٍّ
  7. Jika Maf’ul bih nya dua atau lebih maka maf’ul bih yang pertama dijadikan naibul fa’il dan yang kedua tetap manshub sebagai maf’ul bih contoh أَعْطَى عَلِيٌّ مِسْكِيْنًا ثَوْبًا (Ali memberi pakaian kepada orang miskin) أُعْطِيَ مِسْكِيْنٌ ثَوْبًا (Orang miskin itu diberikan pakaian)

Penjelasan ;

Kata مِسْكِيْنًا sebagai maf’ul bih pertama dan kata ثَوْبًا sebagai maf’ul bih kedua. Sebagaimana kita ketahui bahwa Naibul Fa’il itu diambil dari Maf’ul bih akan tetapi pada kalimat diatas terdapat dua maf’ul bih yaitu kata مِسْكِيْنًا dan ثَوْبًا , maka yang menjadi Naibul fa’il adalah kata مِسْكِيْنًا yang kemudian berubah menjadi مِسْكِيْنٌ sedangkan kata ثَوْبًا tetap bertindak sebagai Maf’ul bih.

 

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama Republik Indonesia , Al-Qur’an dan Terjemahnya.

Djuha, Djawahir. Tatabahasa Arab (Ilmu Nahwu) terjemahan Matan Al-Ajrumiyah. Cet. VII; Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2007.

Fahmi, Ah. Akrom. Ilmu Nahwu & Sharaf 3 (tata bahasa arab). Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1999.

Kasim, Amrah. Bahasa Arab di Tengah-Tengah Bahasa Dunia,2009 M. Kota Kembang : Yogyakarta

Nuri, Mustafa. Al-‘Arabiyyah Al-Muyassarah, 1429 H/2008 M.Pustaka Arif: Jakarta.

Ni’mah,Fuad. Mulakhkhos Qawa’id Al-lugatul ‘Arabiyah, Darul Atssiqofah Al-Islam Nuri, Mustafa Moh. Tuntunan Praktis Memahami Bahasa Arab I. Ujung Pandang: Fakultas Adab IAIN Alauddin, 1992.

Rofiq, Aunur. Ringkasan Kaidah-Kaidah Bahasa Arab, 1429 H. Pustaka Al-Furqon: Gresik.

Zakaria, Aceng. Ilmu Nahwu Praktis Sistem Belajar 40 Jam, 2004 M. Ibn Azka Press : Garut

Raya, Ahmad Thib dan Musdah Mulia. Pangkal Penguasaan Bahasa Arab. Jilid I. Cet. I; Ujung Pandang: Berkah Utami, 1999.

Zakaria, A. Ilmu Nawhu Praktis Sistem Belajar 40 Jam. Ibn Azka Press: Garut, 2004.

 

Catatan Kaki

[1]Aunur Rofiq bin Ghufron. Ringkasan Kaidah-Kaidah Bahasa Arab. (cet. V. Pustaka Al-Furqon; Gresik Jatim ,2010).  h.1

[2] A. Zakariya. Ilmu Nahwu Praktis (system belajar 40 jam). ( Cet ke IV ; Garut : Ibnu Azka Press ), hal 173

[3] Dr. Hj. Amrah Kasim. Bahasa Arab di Tengah-Tenagh Bahasa Dunia (cet.I. Kota Kembang :Yogyakarta. 2009 M). h.1

[4] Fuad, Ni’mah. Mulakkhos Qawaid al-Lughatul ‘Arabiyah. Darul Atssiqofah Al-Islamiyah: Beirut.h.47

[5] Mustafa, Nuri. Al-‘Arabiyyah Al-Muyassarah,.(cet.I. Pustaka Arif, : Jakarta 1429 H/2008 M).h.98

[6]A. Zakaria. Ilmu Nahwu Praktis Sistem belajar 40 Jam. (cet.I. Ibn Azka Press; Garut 2004 M) h.89

[7] Mustafa, Nuri. Al-‘Arabiyyah Al-Muyassarah,Op.cit. h.100

[8] A. Zakaria. Ilmu Nahwu Praktis Sistem belajar 40 Jam.Op.cit. h.90

[9] A. Zakaria. Ilmu Nahwu Praktis Sistem belajar 40 Jam.Loc.cit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here